Perjalanan Situ Cisanti Gunung Wayang

Situ Cisanti Gunung Wayang – Situ Cisanti adalah objek wisata alam yang menawarkan pesona hamparan danau tenang dengan jajaran pohon pinus yang tinggi menjulang. Pesona keindahannya yang tersembunyi seakan-akan ingin sekali berbisik kepada kita, bahwa inilah wajah asli dari hulu sungai Citarum.Sungai terpanjang dan terbesar di Tatar Pasundan Provinsi Jawa Barat.

Situ Cisanti Gunung Wayang 1
Situ Cisanti Gunung Wayang 1

Meski Citarum lebih dikenal dengan statusnya sebagai sungai yang kotor dan juga sangat tercemar, tapi lihatlah, masih ada keindahan yang tersisa dari sungai ini. Terlebih ketujuh mata air yang konon masih mengalir, mengisi, dan bersatu di Situ Cisanti ini. Dan Anda pun bisa berkesempatan mengunjungi salah satu dari ketujuh mata air tersebut, yaitu mata air pangsiraman.

Situ Cisanti Gunung Wayang Pernah Kritis Akibat Perambahan Hutan

Kalau kita membahas tentang Situ Cisanti, pasti tidak terlepas dengan yang namanya Gunung Wayang. Terlebih, Situ Cisanti memang terletak di kaki gunung ini. Jadi, kalau terjadi sesuatu dengan lereng Gunung Wayang yang menaungi Situ Cisanti maka tentu setidaknya akan berdampak terhadap kelangsungan Situ Cisantinya itu sendiri. Nah itulah setidaknya yang pernah terjadi dengan Situ Cisanti dan Gunung Wayang ini beberapa tahun silam.

Keindahan Situ Cisanti Gung Wayang dari salah satu sudut situ
Keindahan Situ Cisanti Gunung Wayang dari salah satu sudut situ

Kalau kita menilik sedikit kebelakang, sebenarnya Situ Cisanti pernah mengalami pasang surut dan juga problematika yang tak kalah peliknya. Bersumber dari buku yang berjudul ” Expedisi Citarum: Laporan Jurnalistik Kompas”, danau atau Situ Cisanti ini pernah surut hingga pada titik yang mengkhawatirkan. Dimana akibat tumpukan sedimentasi dari tanah yang meluncur karena gerusan air hujan dari atas, membuat Situ Cisanti ini tampak seperti rawa-rawa dengan airnya yang menyusut. Malah, mata-mata air yang merupakan sumber utama dari Situ ini, beberapanya hingga sempat tidak mengeluarkan air.

Tentu, tidak ada asap kalau tidak ada api. Alih fungsi lahan ditenggarai sebagai penyebabnya. Kawasan hutan milik Perhutani di Petak 73 yang menaungi Situ Cisanti dan berada di lereng Gunung Wayang ini gundul dirambah oleh 334 kepala keluarga yang berprofesi sebagai petani. Pohon-pohon habis ditebangi, dan tanahnya digarap dan diolah menjadi perkebunan sayur seperti kentang, kubis, dan wortel. Sehingga tampak dari kejauhan, lekukan gunung yang mengitari area dari Situ Cisanti ini berwarna kecoklatan atau kehitaman karena telah berubah menjadi lahan pertanian.

Dikutip dari Lipsus.kompas.com, Agus Derajat yang sekarang menjabat sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tarumajaya sejak akhir tahun 2003, dan merupakan cikal bakal LMDH Perhutani menuturkan:

“Kondisi hutan tahun 1988 masih sangat bagus. Gunung Wayang masih dikenal karena keangkerannya,” tuturnya.

Ini berarti, 1 tahun setelah kedatangannya untuk yang pertama kali ke Kertasari di tahun 1987, dalam rangka penempatannya sebagai guru, pasca lulus dari Sekolah Pendidikan Guru dengan spesialisasi matematika setahun sebelumnya. Saat itu Pak Agus Derajat mengajar di SDN Tarumajaya yang juga wakil kelas VI.

Pak Agus juga menuturkan bahwa, ditahun 2002 semuanya telah berubah, dan kondisi Situ Cisanti cukup memprihatinkan.

“Kondisi tahun 2002 sangat jauh berbeda. Lereng gunung dipenuhi kebun sayur, pohon hilang karena ditebangi, mata air tidak memancar,” tutur beliau.

Menurutnya, ini mulai terjadi sekitar tahun 1998-1999, dimana selain faktor semakin sempitnya ketersediaan dan kepemilikan lahan karena tekanan jumlah penduduk, juga karena saat itu mudahnya mendapatkan Kredit Usaha Tani. Sehingga setiap petani bisa mendapatkan modal untuk bertani dengan mudah. Belum lagi ditambah mereka-mereka yang datang dengan uang banyak, dan menyewa lahan garapan disana.

Sehingga mungkin juga karena faktor tersebutlah maka berdampak pada sektor pertanian dan perkebunan di kala itu yang semakin meluas. Alhasil, sebagian keluarga ada yang mulai naik kelereng gunung wayang, yaitu di petak 73 yang mana area ini adalah kawasan yang menaungi Situ Cisanti. Dan akibatnya, area 73 yang awalnya hutan akhirnya menjadi gundul, pohon ditebangi, dan tanahnya diolah menjadi perkebunan. Fungsi hidrologis hutanpun akhirnya berkurang.

Tidak ada lagi resapan air dan penahan air disana, air hujan langsung turun dengan membawa material tanah ke Situ Cisanti. Sumber mata air sebagian mati dan Situ Cisanti akhirnya tampak seperti rawa. Dan menurut Pak Agus, alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan ini berlangung dengan agresif hingga tahun 2002 silam.

Karena semakin memprihatinkan, di tahun 2001 akhirnya dilakukan pembenahan dan penataan Situ Cisanti. Pinggiran Situ Cisanti dibenahi dengan cara pembuatan parit selebar 1,5 m, yang berfungsi menahan aliran air dan lonsoran tanah agar tidak langsung masuk ke Situ Cisanti. Juga dibangun dua buah pintu air yang sekaligus merupakan awal aliran sungai Citarum. Pembenahan, pembersihan, dan penataan Situ Cisatum ini menurut kabar dilakukan melalui atau berbarengan dengan program Citarum Bergetar (bersih, geulis dan lestari) pada tanggal 15 Agustus 2001, oleh Pemerintah Propinsi Jawa Barat bersama seluruh pemangku kepentingan di Gunung Wayang, dan menetapkannya sebagai sumber matai air citarum.

Kembali mengutip dari Lipsus.kompas.com. Pak Agus Derajat yang kala itu masih belum menjadi ketua LMDH pernah juga menjadi seorang petani guna mendapatkan tambahan penghasilan, yang mana saat itu penghasilannya sebagai seorang guru adalah sebesar Rp.400.000 per bulan. Pak Agus juga pernah menggarap dan berkebun sayur di lahan milik Perhutani seluas 15 hektar secara berpindah-pindah. Namun lama kelamaan, naluri sebagai insan yang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, ditambah nalurinya sebagai seorang guru, juga fakta kerusakan lingkungan yang terjadi didepannya, membuat Pak Agus tersadar, dan akhirnya berbalik melawan arus dengan mengajak para tokoh petani penggarap untuk berkumpul, berserikat, dan mendirikan Forum Petak 73 sebagai wadah dan mengakomodir 334 kepala keluarga yang ada didalamnya.

Ya, memang tidak mudah mengajak warga yang menggarap petak 73 ini untuk tidak lagi menggarap lahan disana, karena Pak Agus sangat menyadari ada dua kepentingan yang sedang bertarung disini, yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, serta kelestarian lingkungan yang manfaatnya mencakup lebih banyak orang. Terlebih, bantuan pemerintah berupa pemberian sejumlah ekor kambing agar para perambah mau turun dan tidak lagi bertani disana ternyata tidak bisa memecahkan masalah. karena jumlahnya yang jauh dari mencukupi. Walhasil bisa ditebak, posisi Pak Agus menjadi terpojokan karena beliaulah yang mengajak.

Situ Cisanti & Gunung Wayang Mulai Berangsur Pulih

Waktu terus berjalan hingga lambat laun usaha pendekatan tersebut berhasil. 334 kepala keluarga yang asalnya menggarap petak 73 mau turun dan tidak lagi menggarap kawasan lereng yang menaungi Situ Cisanti sejak 2003. Meski bukan benar-benar tidak menggarap, namun mengganti tanamannya dengan tanaman kopi, bukan lagi tanaman sayuran yang bisa menyumbang reksiko erosi yang lebih besar. Dan lihatlah sekarang, lereng gunung yang asalnya gundul sudah mulai lebat kembali, mata air yang asalnya berhenti kini mengalir dengan jernihnya, dan debit air Situ Cisantipun pada akhirnya kini kembali naik.

Kalau Pak Agus beserta segenap masyarakat disekitar hulu Citarum sudah berkorban guna melestarikan Sungai Citarum, lalu bagaimana dengan kita yang berada di bagian hilir. Masihkah kita akan terus megotori sungai ini dengan tumpukan sampah, limbah ternak, atau limbah pabrik. Mudah-mudahan kita juga bisa seperti mereka, bisa turut menjaga kebersihan dan kelestarian aliran sungai citarum. Supaya sungai ini bisa terus memberikan manfaat kepada kita.

Meski sebagian dari kita berada jauh dari aliran sungai, bukan berarti kita tidak peduli dengan Citarum. Setidaknya buanglah sampah pada tempatnya, dan jangan membuang sampai ke selokan atau sungai-sungai disekitar kita. Toh pada akhirnya sungai-sungai tersebut akan mengalirkan air dan segala isinya ke sungai Citarum.

Akhir kata, semoga sepenggal cerita tentang Perjalanan Situ Cisanti Gunung Wayang ini tidak akan pernah terulang kembali. Dan semoga keindahan Situ Cisanti sebagai Hulu dari sungai Citarum bisa terus terjaga. Hingga anak cucu kita bisa melihat, bahwa kita sebagai pendahulu, bisa memberikan contoh yang baik kepada mereka. Salam.

Sumber utama:
 - Expedisi Citarum: Laporan Jurnalistik Kompas
 - Lipsus.kompas.com
(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *