Mitos Situ Cisanti Dan Sejarah Petilasan Dipati Ukur

Mitos Situ Cisanti & Petilasan Dipati Ukur – Siapa yang tak kenal dengan Situ Cisanti. Sebuah situ dengan panoramanya yang asri. Sebuah situ yang sarat akan mitos dan juga sejarahnya di masa lalu. Cisanti juga merupakan hulu dari sebuah sungai yang kaya akan sejarah. Sebuah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat, yaitu Sungai Citarum. Yang membentang dari Gunung Wayang Kab. Bandung, hingga Muara Gembong di kab. Bekasi.

Pintu masuk ke mata air pangsiraman
Pintu masuk ke mata air pangsiraman
Mata air situ cisanti - pangsiraman
Mata air situ cisanti – pangsiraman

Seperti yang tadi kita singgung diawal. Keberadaan Situ Cisanti memang tidak lepas dengan mitos yang menyelimutinya. Mulai dari mitos 7 mata air yang mempunyai kelebihan, juga mitos bahwa Situ Cisanti merupakan petilasan atau tempat persinggahan dari Eyang Dipati Ukur di masa lalu. Semuanya itu bisa Anda lihat dari jejak-jejak sejarah yang masih tersisa si tempat ini, seperti mata air yang masih mengeluarkan airnya, hingga makam-makam yang dianggap keramat oleh mereka yang mempercayainya.

Mitos Situ Cisanti & Petilasan Dipati Ukur

Saat kita akan masuk ke wana wisata Situ Cisanti, sebuah plank berukuran ± 1 m terpampang jelas bertuliskan ” Situs Petilasan Dipati Ukur “. Tanda ini sepertinya mengukuhkan, bahwa mitos Eyang Dipati Ukur pernah benar-benar datang ke tempat ini adalah benar adanya.Wallahu a’lam.

Menurut mitos yang beredar dikalangan masyarakat Sunda, hal tersebut dapat dibuktikan dari adanya jejak sejarah berupa situs petilasan yang hingga kini kondisinya masih terawat dan juga terjaga dengan baik.

Petilasan Eyang Dipati Ukur ini berbentuk seperti sebuah makam berukuran 2.5 x 1 m, yang dilingkari pagar dari kawat sebagai pelindungnya. Kemudian disamping petilasan tersebut terdapat sebuah saung dan juga seorang kuncen yang menjaga petilasan tersebut.

Tempat dimana petilasan Dipati Ukur ini berada tidaklah terlalu besar, yaitu berukuran ± 4 sampai 5 x 5 m, dimana sekelilingnya dilindungi oleh pagar bambu dan juga pagar hidup berupa pepohonan kecil, sehingga tidak sembarang orang dapat masuk kedalamnya.

” Dikutip dari Website Resmi Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung diperoleh informasi bahwa:

Awalnya petilasan Dipati Ukur ini tampak berupa seperti bongkahan batu yang dihamparkan, sebelum akhirnya di bangun secara permanen oleh pengelola situ Gunung Wayang. Dituliskan juga bahwa hamparan batu tersebut terdiri dari batu persegian bercampur dengan batu alam, dan terdapat batu lingga sebagai cirinya.”

” Masih dari sumber yang sama, didapatkan informasi juga bahwa menurut salah seorang nara sumber yang mengaku masih keturunan dari Dipati Ukur, yaitu keluarga dari Kawargian Bandung, bahwa situs petilasan makam Eyang Dipati Ukur sebenarnya bukanlah sebuah makam layaknya tempat untuk menguburkan jasad, melainkan hanya sebagai tempat yang konon pernah digunakan oleh Dipati Ukur di masa-masa perjuangan menghadapi pasukan Mataram. diwaktu yang lalu. “

Namun diluar dari info yang didapat dari website resmi Kab. Bandung tersebut, tersebar juga cerita bahwa konon Eyang Dipati Ukur diutus datang ke sini (ke Situ Cisanti) bertujuan untuk mencari rajanya yang saat itu tidak berada ditempat.

Petilasan Dipati Ukur Sering Didatangi Peziarah

Menurut info yang beredar, konon petilasan ini sering dijadikan tempat berziarah oleh orang-orang yang ingin mendapatkan berkah. Sehingga pada hari atau tanggal tertentu suka ada saja orang yang datang ke sini untuk melakukan ritul. Entahlah, harapan apa yang mereka inginkan sehingga datang ke tempat ini untuk mendapatkan berkah.

Kalo admin boleh mengingatkan, mengarap berkah’lah langsung kepada Alloh SWT, karena Dia lah Maha sempurna, Maha pemberi rizki, dan Maha segalanya. Mudah-mudahan kita semua selalu dihindarkan dari perbuatan Musyrik dan Syirik.

Bolehlah datang ke tempat-tempat seperti ini kalau sebatas ingin melihat sisa sejarah di masa lampau. Karena Bung karno pernah berkata:

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.”

Siapa Sebenarnya Tokoh Dipati Ukur Itu ?

Dipati ukur bukanlah tokoh fiksi. Tapi merupakan seorang tokoh sejarah masyarakat Sunda. Seorang yang pernah menjadi Wedana Bupati Priangan dibawah kepemimpinan Kerajaan Mataram di abad ke-17. Beliau juga pernah memimpin sebuah pasukan besar untuk menyerang Kompeni Belanda di Batavia di tahun 1628, atas perintah Sultan Agung Kerajaan Mataram.

Banyak versi yang menuliskan tentang tokoh Dipati Ukur seperti apa, dan tiap-tiap versi tersebut memberikan kisahnya masing-masing. Seperti cerita versi Galuh, versi Sukapura, versi Sumedang, Versi Bandung, dan beberapa versi lainnya. Siapa yang benar, sekali lagi Wallahu a’lam. Hanya Tuhan yang tahu.

Namun meski begitu, karena yang kita bicarakan ada hubungannya dengan Kab. Bandung, maka sudah pasti cerita yang beredar dikalangan orang Sunda pun adalah cerita Dipati Ukur menurut cerita versi Bandung. Oleh karenanya, kita akan ambil beberapa informasi dari sana, terutama informasi atau cerita mengenai sang tokoh Dipati Ukur.

Bersumber dari arsip sejarah berdirinya Kabupaten Bandung menurut Prof. Dr. A. Sobana H. M.A, yang tertulis di website resmi Kabupaten Bandung, www.bandungkab.go.id, menuliskan bahwa:

Dipati Ukur adalah seorang Bupati Wedana Priangan, yang kala itu menjabat guna menggantikan Bupati Wedana sebelumnya, yaitu Pangeran Dipati Rangga Gede, yang dihukum oleh Sultan Agung yang kala itu memerintah Kerajaan Mataram.

Pangeran Dipati Rangga Gede sebenarnya hanya mewakili kepemimpinan yang diwakilkan kakaknya kepadanya, yaitu Raden Aria Suradiwangsa (Rangga Gempol I). Hal tersebut terjadi karena Rangga Gempol I mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menaklukan daerah Sampang (Madura). Sehingga untuk menggantikannya sementara maka jabatan Bupati Wedana ( Bupati Kepala) sementara diwakilkan kepada adiknya, Pangeran Dipati Rangga Gede.

Raden Aria Suradiwangsa adalah Bupati Wedana (Bupati Kepala) Priangan tahun 1620-1624 yang kala itu diangkat oleh Sultan Agung untuk mengawasi wilayah Priangan, yang mana Sumedang termasuk didalamnya. Yang kemudian Raden Aria Suradiwangsa diberi gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, yang akhirnya dikenal dengan sebutan Rangga Gempol I.

Saat kepemimpinan berada di tangan Pangeran Dipati Rangga Gede, ternyata Sumedang mendapat serangan dari pasukan Banten yang kala itu memang bermusuhan dengan Kerajaan Mataram.

Namun karena sebagian besar pasukan Sumedang berangkat ke Sampang bersama Rangga Gempol I, maka Pangeran Dipati Rangga Gede akhirnya tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Alhasil, Pangeran Dipati Rangga Gede mendapatkan sanksi dari Sultan Agung dan ditahan di Mataram.

Dipati Ukur diangkat menjadi Bupati Wedana

Pasca penahanan Pangeran Dipati Rangga Gede akhirnya jabatan Bupati Wedana Priangan di serahkan ke Dipati Ukur. Namun syaratnya, beliau harus merebut wilayah Batavia dari penguasaan kompeni Belanda. Dan pada tahun 1628, Dipati Ukur mendapat perintah dari Sultan Agung untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni Belanda di Batavia. Namun sayangnya, serangan tersebut gagal.

Sadar akan kegagalan tersebut, Dipati Ukur’pun menyadari bahwa dia akan mendapatkan hukuman dari Sultan Agung, seperti yang sudah dialami oleh Pangeran Dipati Rangga Gede. Singkat cerita Dipati Ukur beserta pengikutnya tidak kembali lagi ke Mataram dan tidak melaporkan kekalahan atau kegagalan tugasnya tersebut. Sehingga Mataram menganggap tindakan yang dilakukan oleh Dipati Ukur tersebut dianggap pemberontakan terhadap Kerajaan Mataram.

Itulah sekilas dari perjalan Dipati Ukur menjadi seorang Bupati Wedana Priangan. Untuk mendapatkan keakuratan berita dan informasi, Anda bisa menyimaknya langsung di website resmi Kabupaten bandung di bawah artikel ini.

Akhir kata, semoga info mengenai salah satu mitos dan sejarah singkat Petilasan Dipati Ukur ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Apabila Anda berkesampatan mengunjungi Situ Cisanti ini, Anda bisa menanyakannya langsung pada tokoh – tokoh setempat yang menjaga Situ ini.

Sumber Utama:
 • www.bandungkab.go.id : Sejarah berdirinya kabuparen Bandung
 • Web Resmi Pemerintah Kab. Bandung Bidang Pendidikan, Sejarah, dan Kebudayaan: Huluwotan Citarum
(Visited 8 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *