Tiket Masuk Situ Cisanti

Tiket masuk Situ Cisanti – Untuk sobat traveler semua yang kebetulan sedang mencari info-info tentang Situ Cisanti, atau sedang mencari info tentang wana wisata alam disekitar Bandung Selatan, maka semoga info ini bisa menjadi referensi untuk sobat semua.

Jadi tanggal 6 desember 2015 silam, saya (admin) berkesempatan mengunjungi tempat wisata Situ Cisanti. Awalnya, sebenarnya admin memang tidak ada rencana untuk pergi ke sini, tapi kebetulan di hari tersebut admin kedatangan seorang teman yang kebetulan sedang libur dari pekerjaanya, dan ngajak jalan-jalan buat refreshing.

Ngalor ngidul kita ngobrol, akhirnya setuju buat ngunjungi Wana wisata Situ Cisanti di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari. Kebetulan teman saya tersebut sudah bertahun-tahun tidak berkunjung kesana, dan saya’pun excited menanggapi ajakan tersebut. (Ini juga yang melatar belakangi admin membuat web Situ Cisanti)

Sebelum pergi, iseng-iseng deh nyari info tentang Situ Cisanti. Seperti rute menuju Situ Cisanti, apakah mau lewat Pangalengan atau mau lewat Ciparay, dan akhirnya memutuskan lewat Ciparay saja. Lalu kemudian nyari info juga tentang harga tiket masuk Situ Cisanti. Lihat di web ada yang bilang 7500, ada juga yang bilang 10.000 rupiah/orang. Cukup murahlah, lagian kita juga berkunjung kesana jarang-jarang.

Sekitar jam 9-10’an akhirnya kita berangkat dari rumah di Rancamanyar berdua berboncengan menggunakan sepeda motor, maklum belum punya roda 4 bos, hehehe. Oh iya bagi yang belum tahu, Desa Rancamanyar itu berada di Kecamatan Baleendah kabupaten Bandung.

Rute perjalanan yang kita lewati adalah jalur alternatif via Arjasari yang nantinya tembus ke Lembur Awi. Kenapa kita melalui jalur ini, adalah karena supaya tidak memutar lagi ke Dayeuh Kolot.

Kalo sobat yang dari Bandung Via Jl. Mohammad Toha pasti bakalan lewat Dayeuh Kolot menuju Ciparay melalui Jl. Laswi. Sedangkan yang dari Bandung via Buah batu pasti lewat Bojong Soang, lurus lewat jl. Siliwangi, dan akhirnya masuk Jl. Laswi dan sampai ke Ciparay. Meski beda-beda awalnya, tapi nantinya tetap akan lewat Lembur Awi ⇒ Pacet ⇒ Cibeureum ⇒ Sampai deh ke Situ Cisanti. Jadi meski beda-beda start awalnya, kita anggap jalur ini adalah jalur Ciparay Aja ya, toh akhirnya ketemu juga di Lembur Awi hehehe.

Untuk rute lengkap baca disini: Rute Situ Cisanti

15.000 Rupiah / Orang Untuk Tiket Masuk Situ Cisanti

tempat bayar tiket masuk situ cisanti
Pos Pintu Masuk ke Situ Cisanti – Harga tiket masuk ke Situ Cisanti 15.000/orang

Setelah kira-kira 2-3 jam perjalanan, akhirnya kita sampai di Situ Cisanti jam 12 lewat. Jajaran pohon pinus tinggi menjulang menyambut kita dengan nyanyian desiran pohon yang tertiup angin. Di mulut pintu masuk Wana Wisata Situ Cisanti, kita bisa melihat plank yang bertuliskan ” Situs Petilasan Dipati Ukur Desa Tarumajaya Kec. Kertasari.

Turun dari motor, terlihat 2 bus ukuran 3/4 dan beberapa buah motor sudah terparkir. Tampaknya, ada rombongan yang sedang berkunjung ke sini. Meski begitu, suasana di Situ Cisanti tampak sepi dan hening jika dibandingkan Wana Wisata sejenis lainnya seperti Situ Cileunca yang ada di Pangalengan.

tiket masuk situ cisanti
Pemuda setempat bertugas menjaga pintu masuk ke Situ Cisanti

Setelah sebentar mengabadikan plank bertuliskan situs petilasan Dipati Ukur tadi, langsung deh jalan dikit menuju pos penjagaan dimana teman saya sudah menunggu. Disana sudah ada 1-2 orang yang menghampiri untuk memungut uang tiket masuk ke Situ Cisanti.

Setelah bertanya berapa harga tiket masuk untuk 2 orang, mereka menjawab 20.000 untuk dua orang. Ini artinya, harga tiketnya saat kita berkunjung adalah 10.000/orang. Lalu untuk parkir motornya, adalah 2.500/motor yang dibayar saat pulangnya.

Namun itu dulu, karena melihat beberapa sumber yang pergi ke situ Cisanti baru baru ini mereka meninformasikan bahwa saat ini tiket masuk Situ Cisanti adalah 15.000/orang, dan biaya parkir untuk motor 3.000 dan 8.000 untuk parkir mobil.

Kalo dilihat sepintas, sepertinya Akang-akang ini kelihatannya mungkin bukan petugas resmi dari Situ Cisanti, cuman membantu berjaga-jaga di pintu masuk Situ Cisanti yang sepi ini.

Menyusuri Anak Tangga Lalu Bilang “Situ Cisanti I’m Coming”

Turunan anak tangga menuju Situ Cisanti
Turunan anak tangga menuju Situ Cisanti

Setelah memakirkan motor, memandang ke sekeliling untuk melihat ada apa saja fasilitasnya. Sepintas, tidak terlalu banyak yang terlihat, yang tampak beberapa rumah bale yang terbuat dari bambu yang bernama Bale Sawala Wayang Windu, dan sebuah warung dengan beberapa orang pengunjung didalamnya.

Kita’pun berbegas menuju Situ Cisanti yang lokasinya sedikit agak kebawah. Menyusuri jalan selebar 1 m, akhirnya kitapun menemui anak tangga menurun yang membentuk huruf L. Setelah beberapa langkah menuruni anak tangga akhirrnyaaaa… taraaaa… ” Situ Cisanti I’m Coming “. Akhirnyaa Situ Cisantipun sudah mulai terlihat. Tampak mulut danau Situ Cisanti dengan pintu air di kedua sisinya. Kemudian dinding tembok bertuliskan Situ Cisanti berada didepannya.

Lebih turun kebawah akhirnya terlihatlah dengan jelas wajah asri dari danau Cisanti yang tenang. Wajah asli dari hulu sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat, Sungai Citarum. Situ Cisanti adalah sebuah danau kecil yang kanan kirinya di kelilingi oleh pepohonan yang tinggi. Luasnya tidak lebih dari 10 hektar, dengan luas yang diairi adalah sekitar 7 hektar.

Sssstt…coba dengarkan, desiran pohon tertiup angin dan suara serangga tonggeret seakan tengah menyambut siapa saja tamu yang datang.

Berkeliling Situ Cisanti

Setelah mengambil beberapa video di mulut Cisanti sekarang waktunya berkeliling situ. Dari kejauhan sudah tampak beberapa pengunjung lain yang juga berjalan mengelilingi situ, dan beberapa orang lainnya yang sedang memancing.  Menurut info, kabarnya ikan-ikan disini cukup banyak. Selain ikan endemik seperti: mujaer, paray, dan bogo, juga ada jenis ikan lainnya yang sengaja ditebar di Situ Cisanti ini, seperti: ikan mas, nilem, dan juga nila.

Butuh 1 jam berkeliling Situ Cisanti dengan cara berjalan santai. Meski sedikit lelah, pemandangan yang asri penyemangat kami hingga bisa terus berjalan.

Oh iya, kaki gunung wayang yang dulu pernah gundulpun bisa terlihat jelas disini. Tak tampak perkebunan sayur yang menjadi sumber masalah dimasa lalu. Karena kabarnya, Situ Cisanti pernah susut airnya dan mata airnya’pun berhenti mengalir. Awalnya bermula karena adanya alih fungsi lahan dari yang asalnya hutan menjadi perkebunan. Pohon dibabat, dan tanahnya diolah ditanami sayur. Hasilnya, fungsi hidrologis hutan pun berkurang  dan Situ Cisanti pun kritis.

Anda bisa membaca cerita perjalanan Situ Cisanti yang pernah kritis tersebut disini: Perjalanan Situ Cisanti

Saat mengelilingi Situ Cisanti Anda’pun bisa melihat situs mata air pangsiraman. Namun sayangnya, tidak semua orang dapat masuk ke situs mata air yang konon keramat ini. Perlu ijin dan pendampingan dari kuncen penunggu mata air untuk bisa masuk kedalamnya. Jadi kalau tidak bisa masuk ya lihat depannya aja kalo gitu, heheheh.

Well, mudah-mudahan info ini bermanfaat yah. Tadinya admin mau nulis info tiket Situ Cisanti aja, ehh malah kepanjangan hingga sedikit review sekitar situ. Tapi gapapalah, itung-itung bonus info aja, hehehe. Akhir kata, semoga info mengenai Tiket Masuk Situ Cisanti ini bermanfaat untuk sobat traveler semua. Salam.

Perjalanan Situ Cisanti Gunung Wayang

Situ Cisanti Gunung Wayang – Situ Cisanti adalah objek wisata alam yang menawarkan pesona hamparan danau tenang dengan jajaran pohon pinus yang tinggi menjulang. Pesona keindahannya yang tersembunyi seakan-akan ingin sekali berbisik kepada kita, bahwa inilah wajah asli dari hulu sungai Citarum.Sungai terpanjang dan terbesar di Tatar Pasundan Provinsi Jawa Barat.

Situ Cisanti Gunung Wayang 1
Situ Cisanti Gunung Wayang 1

Meski Citarum lebih dikenal dengan statusnya sebagai sungai yang kotor dan juga sangat tercemar, tapi lihatlah, masih ada keindahan yang tersisa dari sungai ini. Terlebih ketujuh mata air yang konon masih mengalir, mengisi, dan bersatu di Situ Cisanti ini. Dan Anda pun bisa berkesempatan mengunjungi salah satu dari ketujuh mata air tersebut, yaitu mata air pangsiraman.

Situ Cisanti Gunung Wayang Pernah Kritis Akibat Perambahan Hutan

Kalau kita membahas tentang Situ Cisanti, pasti tidak terlepas dengan yang namanya Gunung Wayang. Terlebih, Situ Cisanti memang terletak di kaki gunung ini. Jadi, kalau terjadi sesuatu dengan lereng Gunung Wayang yang menaungi Situ Cisanti maka tentu setidaknya akan berdampak terhadap kelangsungan Situ Cisantinya itu sendiri. Nah itulah setidaknya yang pernah terjadi dengan Situ Cisanti dan Gunung Wayang ini beberapa tahun silam.

Keindahan Situ Cisanti Gung Wayang dari salah satu sudut situ
Keindahan Situ Cisanti Gunung Wayang dari salah satu sudut situ

Kalau kita menilik sedikit kebelakang, sebenarnya Situ Cisanti pernah mengalami pasang surut dan juga problematika yang tak kalah peliknya. Bersumber dari buku yang berjudul ” Expedisi Citarum: Laporan Jurnalistik Kompas”, danau atau Situ Cisanti ini pernah surut hingga pada titik yang mengkhawatirkan. Dimana akibat tumpukan sedimentasi dari tanah yang meluncur karena gerusan air hujan dari atas, membuat Situ Cisanti ini tampak seperti rawa-rawa dengan airnya yang menyusut. Malah, mata-mata air yang merupakan sumber utama dari Situ ini, beberapanya hingga sempat tidak mengeluarkan air.

Tentu, tidak ada asap kalau tidak ada api. Alih fungsi lahan ditenggarai sebagai penyebabnya. Kawasan hutan milik Perhutani di Petak 73 yang menaungi Situ Cisanti dan berada di lereng Gunung Wayang ini gundul dirambah oleh 334 kepala keluarga yang berprofesi sebagai petani. Pohon-pohon habis ditebangi, dan tanahnya digarap dan diolah menjadi perkebunan sayur seperti kentang, kubis, dan wortel. Sehingga tampak dari kejauhan, lekukan gunung yang mengitari area dari Situ Cisanti ini berwarna kecoklatan atau kehitaman karena telah berubah menjadi lahan pertanian.

Dikutip dari Lipsus.kompas.com, Agus Derajat yang sekarang menjabat sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tarumajaya sejak akhir tahun 2003, dan merupakan cikal bakal LMDH Perhutani menuturkan:

“Kondisi hutan tahun 1988 masih sangat bagus. Gunung Wayang masih dikenal karena keangkerannya,” tuturnya.

Ini berarti, 1 tahun setelah kedatangannya untuk yang pertama kali ke Kertasari di tahun 1987, dalam rangka penempatannya sebagai guru, pasca lulus dari Sekolah Pendidikan Guru dengan spesialisasi matematika setahun sebelumnya. Saat itu Pak Agus Derajat mengajar di SDN Tarumajaya yang juga wakil kelas VI.

Pak Agus juga menuturkan bahwa, ditahun 2002 semuanya telah berubah, dan kondisi Situ Cisanti cukup memprihatinkan.

“Kondisi tahun 2002 sangat jauh berbeda. Lereng gunung dipenuhi kebun sayur, pohon hilang karena ditebangi, mata air tidak memancar,” tutur beliau.

Menurutnya, ini mulai terjadi sekitar tahun 1998-1999, dimana selain faktor semakin sempitnya ketersediaan dan kepemilikan lahan karena tekanan jumlah penduduk, juga karena saat itu mudahnya mendapatkan Kredit Usaha Tani. Sehingga setiap petani bisa mendapatkan modal untuk bertani dengan mudah. Belum lagi ditambah mereka-mereka yang datang dengan uang banyak, dan menyewa lahan garapan disana.

Sehingga mungkin juga karena faktor tersebutlah maka berdampak pada sektor pertanian dan perkebunan di kala itu yang semakin meluas. Alhasil, sebagian keluarga ada yang mulai naik kelereng gunung wayang, yaitu di petak 73 yang mana area ini adalah kawasan yang menaungi Situ Cisanti. Dan akibatnya, area 73 yang awalnya hutan akhirnya menjadi gundul, pohon ditebangi, dan tanahnya diolah menjadi perkebunan. Fungsi hidrologis hutanpun akhirnya berkurang.

Tidak ada lagi resapan air dan penahan air disana, air hujan langsung turun dengan membawa material tanah ke Situ Cisanti. Sumber mata air sebagian mati dan Situ Cisanti akhirnya tampak seperti rawa. Dan menurut Pak Agus, alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan ini berlangung dengan agresif hingga tahun 2002 silam.

Karena semakin memprihatinkan, di tahun 2001 akhirnya dilakukan pembenahan dan penataan Situ Cisanti. Pinggiran Situ Cisanti dibenahi dengan cara pembuatan parit selebar 1,5 m, yang berfungsi menahan aliran air dan lonsoran tanah agar tidak langsung masuk ke Situ Cisanti. Juga dibangun dua buah pintu air yang sekaligus merupakan awal aliran sungai Citarum. Pembenahan, pembersihan, dan penataan Situ Cisatum ini menurut kabar dilakukan melalui atau berbarengan dengan program Citarum Bergetar (bersih, geulis dan lestari) pada tanggal 15 Agustus 2001, oleh Pemerintah Propinsi Jawa Barat bersama seluruh pemangku kepentingan di Gunung Wayang, dan menetapkannya sebagai sumber matai air citarum.

Kembali mengutip dari Lipsus.kompas.com. Pak Agus Derajat yang kala itu masih belum menjadi ketua LMDH pernah juga menjadi seorang petani guna mendapatkan tambahan penghasilan, yang mana saat itu penghasilannya sebagai seorang guru adalah sebesar Rp.400.000 per bulan. Pak Agus juga pernah menggarap dan berkebun sayur di lahan milik Perhutani seluas 15 hektar secara berpindah-pindah. Namun lama kelamaan, naluri sebagai insan yang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, ditambah nalurinya sebagai seorang guru, juga fakta kerusakan lingkungan yang terjadi didepannya, membuat Pak Agus tersadar, dan akhirnya berbalik melawan arus dengan mengajak para tokoh petani penggarap untuk berkumpul, berserikat, dan mendirikan Forum Petak 73 sebagai wadah dan mengakomodir 334 kepala keluarga yang ada didalamnya.

Ya, memang tidak mudah mengajak warga yang menggarap petak 73 ini untuk tidak lagi menggarap lahan disana, karena Pak Agus sangat menyadari ada dua kepentingan yang sedang bertarung disini, yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, serta kelestarian lingkungan yang manfaatnya mencakup lebih banyak orang. Terlebih, bantuan pemerintah berupa pemberian sejumlah ekor kambing agar para perambah mau turun dan tidak lagi bertani disana ternyata tidak bisa memecahkan masalah. karena jumlahnya yang jauh dari mencukupi. Walhasil bisa ditebak, posisi Pak Agus menjadi terpojokan karena beliaulah yang mengajak.

Situ Cisanti & Gunung Wayang Mulai Berangsur Pulih

Waktu terus berjalan hingga lambat laun usaha pendekatan tersebut berhasil. 334 kepala keluarga yang asalnya menggarap petak 73 mau turun dan tidak lagi menggarap kawasan lereng yang menaungi Situ Cisanti sejak 2003. Meski bukan benar-benar tidak menggarap, namun mengganti tanamannya dengan tanaman kopi, bukan lagi tanaman sayuran yang bisa menyumbang reksiko erosi yang lebih besar. Dan lihatlah sekarang, lereng gunung yang asalnya gundul sudah mulai lebat kembali, mata air yang asalnya berhenti kini mengalir dengan jernihnya, dan debit air Situ Cisantipun pada akhirnya kini kembali naik.

Kalau Pak Agus beserta segenap masyarakat disekitar hulu Citarum sudah berkorban guna melestarikan Sungai Citarum, lalu bagaimana dengan kita yang berada di bagian hilir. Masihkah kita akan terus megotori sungai ini dengan tumpukan sampah, limbah ternak, atau limbah pabrik. Mudah-mudahan kita juga bisa seperti mereka, bisa turut menjaga kebersihan dan kelestarian aliran sungai citarum. Supaya sungai ini bisa terus memberikan manfaat kepada kita.

Meski sebagian dari kita berada jauh dari aliran sungai, bukan berarti kita tidak peduli dengan Citarum. Setidaknya buanglah sampah pada tempatnya, dan jangan membuang sampai ke selokan atau sungai-sungai disekitar kita. Toh pada akhirnya sungai-sungai tersebut akan mengalirkan air dan segala isinya ke sungai Citarum.

Akhir kata, semoga sepenggal cerita tentang Perjalanan Situ Cisanti Gunung Wayang ini tidak akan pernah terulang kembali. Dan semoga keindahan Situ Cisanti sebagai Hulu dari sungai Citarum bisa terus terjaga. Hingga anak cucu kita bisa melihat, bahwa kita sebagai pendahulu, bisa memberikan contoh yang baik kepada mereka. Salam.

Sumber utama:
 - Expedisi Citarum: Laporan Jurnalistik Kompas
 - Lipsus.kompas.com

Lokasi Situ Cisanti di Kabupaten Bandung

Lokasi Situ Cisanti – Hulu sungai citarum, itulah julukan untuk situ atau danau yang satu ini. Lokasinya jauh dari keramaian dan berada dikaki sebuah gunung. Ya, Situ Cisanti adalah nama dari situ tersebut, dan Wayang adalah nama dari gunung dimana situ ini berada. Situ Cisanti berada jauh di selatan kota Bandung, kurang lebih sekitar 50 km jauhnya dari pusat kota.

Lokasi Situ Cisanti di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari
Lokasi Situ Cisanti di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari

Meski lokasi Situ Cisanti terbilang cukup jauh, tapi wana wisata ini cukup sering dikunjungi oleh para wisatawan yang penasaran bagaimana rupa akan situ yang merupakan hulu dari sungai citarum tersebut. Tak sedikit yang merasa kagum dan heran, ternyata sungai Citarum yang terkenal kotor dengan tingkat polusinya yang tinggi, ternyata berasal dari danau kecil yang dikelilingi oleh jajaran pohon pinus yang indah.

Lokasi Situ Cisanti Berada Di Desa Tarumajaya

Lokasi Situ Cisanti Berada di sebuah Desa yang tidak hanya terkenal akan produksi susu sapinya, juga terkenal akan hasil pertanian sayurnya yang melimpah, seperti kentang, kubis, bawang daun, dan juga wortel. Desa tersebut bernama Desa Tarumajaya.

Desa Tarumajaya masuk kedalam kecamatan Kertasari, yang mana kecamatan ini merupakan pemekaran dari kecamatan Pacet, yang berada disebelah timur Kab. Bandung. Perlu 2 sampai 3 jam jika melalui jalur Ciparay untuk bisa sampai ke lokasi dimana Situ Cisanti ini berada. Dimana, nantinya Anda akan melintasi kampung Lembur Awi, pacet, cibereum, hingga akhirnya sampai di Situ Cisanti.

Namun setidaknya perlu 3 sampai 4 jam jika Anda datang ke Situ Cisanti jika melalui jalur Pangalengan. Karena memang, jalan yang akan Anda lalui ini rute’nya sebenarnya agak memutar, sehingga membutuhkan waktu yang sedikit agak lama. Tapi jangan khawatir, meski terbilang lebih jauh dan lebih lama, rute situ cisanti via pangalengan akan memanjakan pandangan Anda dengan hamparan kebun tehnya yang sangat Indah.

Malah, jika Anda berangkat pagi-pagi sekali, maka Andapun bisa sekalian mampir dulu ke Situ Cileunca. Situ ini berada dijalur Pangalengan – Cisewu – Rancabuaya, yaitu jalur alternatif Bandung – Garut via Pangalengan. Kalo tidak salah, Situ Cileunca ini diapit oleh 2 perkebunan teh, yaitu perkebunan teh cukul dan juga malabar.

Jadi kalau dari bunderan pertigaan Pangalengan, Anda harus mengambil yang ke arah kanan, kearah perkebunan teh cukul jika mau ke Situ Cileunca. Sedangkan kalau mau ke Situ Cisanti, maka Anda ambil jalur yang ke kiri kearah perkebunan teh PTPN VIII.

Untuk info rute menuju Situ Cisanti, Anda bisa menyimak dengan lebih detil lagi di sini: Rute Situ Cisanti.

Mitos Situ Cisanti Dan Sejarah Petilasan Dipati Ukur

Mitos Situ Cisanti & Petilasan Dipati Ukur – Siapa yang tak kenal dengan Situ Cisanti. Sebuah situ dengan panoramanya yang asri. Sebuah situ yang sarat akan mitos dan juga sejarahnya di masa lalu. Cisanti juga merupakan hulu dari sebuah sungai yang kaya akan sejarah. Sebuah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat, yaitu Sungai Citarum. Yang membentang dari Gunung Wayang Kab. Bandung, hingga Muara Gembong di kab. Bekasi.

Pintu masuk ke mata air pangsiraman
Pintu masuk ke mata air pangsiraman
Mata air situ cisanti - pangsiraman
Mata air situ cisanti – pangsiraman

Seperti yang tadi kita singgung diawal. Keberadaan Situ Cisanti memang tidak lepas dengan mitos yang menyelimutinya. Mulai dari mitos 7 mata air yang mempunyai kelebihan, juga mitos bahwa Situ Cisanti merupakan petilasan atau tempat persinggahan dari Eyang Dipati Ukur di masa lalu. Semuanya itu bisa Anda lihat dari jejak-jejak sejarah yang masih tersisa si tempat ini, seperti mata air yang masih mengeluarkan airnya, hingga makam-makam yang dianggap keramat oleh mereka yang mempercayainya.

Mitos Situ Cisanti & Petilasan Dipati Ukur

Saat kita akan masuk ke wana wisata Situ Cisanti, sebuah plank berukuran ± 1 m terpampang jelas bertuliskan ” Situs Petilasan Dipati Ukur “. Tanda ini sepertinya mengukuhkan, bahwa mitos Eyang Dipati Ukur pernah benar-benar datang ke tempat ini adalah benar adanya.Wallahu a’lam.

Menurut mitos yang beredar dikalangan masyarakat Sunda, hal tersebut dapat dibuktikan dari adanya jejak sejarah berupa situs petilasan yang hingga kini kondisinya masih terawat dan juga terjaga dengan baik.

Petilasan Eyang Dipati Ukur ini berbentuk seperti sebuah makam berukuran 2.5 x 1 m, yang dilingkari pagar dari kawat sebagai pelindungnya. Kemudian disamping petilasan tersebut terdapat sebuah saung dan juga seorang kuncen yang menjaga petilasan tersebut.

Tempat dimana petilasan Dipati Ukur ini berada tidaklah terlalu besar, yaitu berukuran ± 4 sampai 5 x 5 m, dimana sekelilingnya dilindungi oleh pagar bambu dan juga pagar hidup berupa pepohonan kecil, sehingga tidak sembarang orang dapat masuk kedalamnya.

” Dikutip dari Website Resmi Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung diperoleh informasi bahwa:

Awalnya petilasan Dipati Ukur ini tampak berupa seperti bongkahan batu yang dihamparkan, sebelum akhirnya di bangun secara permanen oleh pengelola situ Gunung Wayang. Dituliskan juga bahwa hamparan batu tersebut terdiri dari batu persegian bercampur dengan batu alam, dan terdapat batu lingga sebagai cirinya.”

” Masih dari sumber yang sama, didapatkan informasi juga bahwa menurut salah seorang nara sumber yang mengaku masih keturunan dari Dipati Ukur, yaitu keluarga dari Kawargian Bandung, bahwa situs petilasan makam Eyang Dipati Ukur sebenarnya bukanlah sebuah makam layaknya tempat untuk menguburkan jasad, melainkan hanya sebagai tempat yang konon pernah digunakan oleh Dipati Ukur di masa-masa perjuangan menghadapi pasukan Mataram. diwaktu yang lalu. “

Namun diluar dari info yang didapat dari website resmi Kab. Bandung tersebut, tersebar juga cerita bahwa konon Eyang Dipati Ukur diutus datang ke sini (ke Situ Cisanti) bertujuan untuk mencari rajanya yang saat itu tidak berada ditempat.

Petilasan Dipati Ukur Sering Didatangi Peziarah

Menurut info yang beredar, konon petilasan ini sering dijadikan tempat berziarah oleh orang-orang yang ingin mendapatkan berkah. Sehingga pada hari atau tanggal tertentu suka ada saja orang yang datang ke sini untuk melakukan ritul. Entahlah, harapan apa yang mereka inginkan sehingga datang ke tempat ini untuk mendapatkan berkah.

Kalo admin boleh mengingatkan, mengarap berkah’lah langsung kepada Alloh SWT, karena Dia lah Maha sempurna, Maha pemberi rizki, dan Maha segalanya. Mudah-mudahan kita semua selalu dihindarkan dari perbuatan Musyrik dan Syirik.

Bolehlah datang ke tempat-tempat seperti ini kalau sebatas ingin melihat sisa sejarah di masa lampau. Karena Bung karno pernah berkata:

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.”

Siapa Sebenarnya Tokoh Dipati Ukur Itu ?

Dipati ukur bukanlah tokoh fiksi. Tapi merupakan seorang tokoh sejarah masyarakat Sunda. Seorang yang pernah menjadi Wedana Bupati Priangan dibawah kepemimpinan Kerajaan Mataram di abad ke-17. Beliau juga pernah memimpin sebuah pasukan besar untuk menyerang Kompeni Belanda di Batavia di tahun 1628, atas perintah Sultan Agung Kerajaan Mataram.

Banyak versi yang menuliskan tentang tokoh Dipati Ukur seperti apa, dan tiap-tiap versi tersebut memberikan kisahnya masing-masing. Seperti cerita versi Galuh, versi Sukapura, versi Sumedang, Versi Bandung, dan beberapa versi lainnya. Siapa yang benar, sekali lagi Wallahu a’lam. Hanya Tuhan yang tahu.

Namun meski begitu, karena yang kita bicarakan ada hubungannya dengan Kab. Bandung, maka sudah pasti cerita yang beredar dikalangan orang Sunda pun adalah cerita Dipati Ukur menurut cerita versi Bandung. Oleh karenanya, kita akan ambil beberapa informasi dari sana, terutama informasi atau cerita mengenai sang tokoh Dipati Ukur.

Bersumber dari arsip sejarah berdirinya Kabupaten Bandung menurut Prof. Dr. A. Sobana H. M.A, yang tertulis di website resmi Kabupaten Bandung, www.bandungkab.go.id, menuliskan bahwa:

Dipati Ukur adalah seorang Bupati Wedana Priangan, yang kala itu menjabat guna menggantikan Bupati Wedana sebelumnya, yaitu Pangeran Dipati Rangga Gede, yang dihukum oleh Sultan Agung yang kala itu memerintah Kerajaan Mataram.

Pangeran Dipati Rangga Gede sebenarnya hanya mewakili kepemimpinan yang diwakilkan kakaknya kepadanya, yaitu Raden Aria Suradiwangsa (Rangga Gempol I). Hal tersebut terjadi karena Rangga Gempol I mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menaklukan daerah Sampang (Madura). Sehingga untuk menggantikannya sementara maka jabatan Bupati Wedana ( Bupati Kepala) sementara diwakilkan kepada adiknya, Pangeran Dipati Rangga Gede.

Raden Aria Suradiwangsa adalah Bupati Wedana (Bupati Kepala) Priangan tahun 1620-1624 yang kala itu diangkat oleh Sultan Agung untuk mengawasi wilayah Priangan, yang mana Sumedang termasuk didalamnya. Yang kemudian Raden Aria Suradiwangsa diberi gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, yang akhirnya dikenal dengan sebutan Rangga Gempol I.

Saat kepemimpinan berada di tangan Pangeran Dipati Rangga Gede, ternyata Sumedang mendapat serangan dari pasukan Banten yang kala itu memang bermusuhan dengan Kerajaan Mataram.

Namun karena sebagian besar pasukan Sumedang berangkat ke Sampang bersama Rangga Gempol I, maka Pangeran Dipati Rangga Gede akhirnya tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Alhasil, Pangeran Dipati Rangga Gede mendapatkan sanksi dari Sultan Agung dan ditahan di Mataram.

Dipati Ukur diangkat menjadi Bupati Wedana

Pasca penahanan Pangeran Dipati Rangga Gede akhirnya jabatan Bupati Wedana Priangan di serahkan ke Dipati Ukur. Namun syaratnya, beliau harus merebut wilayah Batavia dari penguasaan kompeni Belanda. Dan pada tahun 1628, Dipati Ukur mendapat perintah dari Sultan Agung untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni Belanda di Batavia. Namun sayangnya, serangan tersebut gagal.

Sadar akan kegagalan tersebut, Dipati Ukur’pun menyadari bahwa dia akan mendapatkan hukuman dari Sultan Agung, seperti yang sudah dialami oleh Pangeran Dipati Rangga Gede. Singkat cerita Dipati Ukur beserta pengikutnya tidak kembali lagi ke Mataram dan tidak melaporkan kekalahan atau kegagalan tugasnya tersebut. Sehingga Mataram menganggap tindakan yang dilakukan oleh Dipati Ukur tersebut dianggap pemberontakan terhadap Kerajaan Mataram.

Itulah sekilas dari perjalan Dipati Ukur menjadi seorang Bupati Wedana Priangan. Untuk mendapatkan keakuratan berita dan informasi, Anda bisa menyimaknya langsung di website resmi Kabupaten bandung di bawah artikel ini.

Akhir kata, semoga info mengenai salah satu mitos dan sejarah singkat Petilasan Dipati Ukur ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Apabila Anda berkesampatan mengunjungi Situ Cisanti ini, Anda bisa menanyakannya langsung pada tokoh – tokoh setempat yang menjaga Situ ini.

Sumber Utama:
 • www.bandungkab.go.id : Sejarah berdirinya kabuparen Bandung
 • Web Resmi Pemerintah Kab. Bandung Bidang Pendidikan, Sejarah, dan Kebudayaan: Huluwotan Citarum

Situ Cisanti Ciparay – Informasi Rute Situ Cisanti Via Ciparay

Situ Cisanti Ciparay – Mungkin artikel ini temanya hampir mirip dengan artikel yang sebelumnya, yaitu yang berjudul “Situ Cisanti Pangalengan“. Jadi, bagi sobat yang mencari info di google dengan mengetikan “Situ Cisanti Ciparay” maka pasti beranggapan Situ Cisanti itu lokasinya berada di Ciparay. Tapi Sobat, sebenarnya Cisanti itu adanya di Kertasari, tepatnya berada di Kampung Pejaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kab. Bandung.

Keindahan Situ Cisanti
Keindahan Situ Cisanti

Untuk yang belum tahu karena belum pernah ke Situ Cisanti, atau sudah pernah berkunjung tapi tidak tahu lokasi tepatnya ada dimana maka wajar saja kalau sebagian sobat traveler mengira kalau Situ Cisanti berada di Pangalengan, dan sebagian lagi mengira berada di Ciparay.

Hal ini mungkin terjadi karena adanya 2 rute yang berbeda untuk menuju CIsanti, yaitu via Ciparay dan satu lagi Via Pangalengan.

Jadi, mereka yang pernah ke Situ Cisanti via Pangalengan maka akan mengira Situ Cisanti adanya di Pangalengan, tapi bagi yang pernah ke Situ Cisanti menggunakan jalur Ciparay maka mungkin juga akan beranggapan kalau Situ Cisanti itu lokasinya ada di daerah Ciparay.

Situ Cisanti Berada Di Kecamatan Kertasari

Kertasari merupakan pemekaran dari kec. Pacet, dan secara letak geografis Kecamatan Kertasari berbatasan langsung dengan beberapa wilayah seperti:

  • Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Pacet
  • Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Garut
  • Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Garut
  • Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Pangalengan

Nah dilihat dari letak geografisnya, itulah kenapa Kecamatan Kertasari bisa diakses lewat Pangalengan dan Juga via Ciparay (Ciparay – Lembur Awi – Pacet – Cibeureum – Tarumajaya (Situ Cisanti).

Untuk lebih lengkapnya sobat bisa membaca rute Situ Cisanti Via Ciparay disini: Situ Cisanti Via Ciparay

Wilayah Kertasari terkenal akan komoditas hasil perkebunan, pertanian, dan juga peternakannya. Untuk hasil perkebunan misalnya seperti teh dan juga kopi, untuk pertanian seperti wortel, kubis, kentang, dan beberapa jenis sayuran lainnya. Sedangkan untuk peternakannya, wilayah Kertasari juga sangat potensial dalam sektor peternakan sapi perahnya.

Ini terbukti dengan besarnya pasokan susu sapi yang masuk ke KPBS Pangalengan yang berasal dari para peternak yang berada di Kecamatan Kertasari. Dan satu lagi, di Kec. Kertasari juga berdiri sebuah perusahaan pengolahan susu murni yang sangat terkenal di Indonesia, yaitu MT. ULTRA JAYA.

Nah gimana, sudah ada sedikit pencerahankan. Semoga artikel singkat “Situ Cisanti” ini bermanfaat untuk sobat semua. Kalau ada tambahan informasi yang dirasa penting pasti akan kita update atikelnya, atau akan kita tulis dalam atikel yang lainnya.

Situ Cisanti Pangalengan – Informasi Wisata Bandung Selatan

Situ Cisanti Pangalengan – Kalau ada diantara sobat semua yang mencari informasi dengan kata kunci tersebut di Google pasti mengira kalau Situ Cisanti itu adanya di Pangalengan, benarkan. Tapi Sobat, sebenarnya Situ Cisanti itu adanya bukan di Kecamatan Pangalengan, melainkan berada di Kecamatan Kertasari. Tepatnya, di kampung Pejaten, desa Tarumajaya, Kec. Kertasari Kab. Bandung.

Ya, memang secara Geografis Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Kertasari ini posisinya memang saling berdampingan, sehingga tak sedikit yang salah persepsi tentang lokasi sebenarnya dari danau Cisanti ini. Dan biasanya, hal tersebut terjadi apabila pengunjung atau wisatawan tersebut baru pertama kali datang mengunjungi Situ Cisanti.

Jadi, mereka yang menggunakan jalur Pangalengan, maka pasti berpikiran kalau Situ Cisanti itu berada di Pangalengan. Begitu juga bagi mereka yang mengunjungi Situ Cisanti Via Ciparay, pasti beranggapan Situ Cisanti adanya di daerah Ciparay, malah ada yang mengira kalau Situ Cisanti berada di Majalaya.

Situ Cisanti Via Pangalengan

Situ Cisanti Pangalengan - Keindahan alam daerah pangalengan
Keindahan alam daerah pangalengan

Bagi sobat yang punya rencana mengunjungi wana wisata hulu sungai citarum atau Situ Cisanti ini via pangalengan, maka sobat bisa membacaya disini: Rute Situ Cisanti Via Pangalengan.

Rute Situ Cisanti via Pangalengan memang lebih difavoritkan bagi sobat yang mau menikmati udara yang sejuk dengan hamparan kebun teh yang luas. Sepanjang mata memandang, hanya akan tampak keindahan yang jarang sekali kita lihat. Namun, rute ini memang sedikit lebih lama jika dibandingkan rute jika melewati jalur Ciparay yang hanya memerlukan waktu 2-3 jam perjalanan saja dari Bandung. Sedangkan kalau kita via Pangalengan sobat harus menempuhnya dengan waktu 4-5 jam perjalanan.

Jalan yang akan sobat lalui via Pangalengan juga hampir seluruhnya mulus, hanya di beberapa titik saja yang kurang begitu bagus, namun tetap dapat dilalui baik untuk roda dua taupun roda empat.

Kalo sobat bingung, sobat bisa mengandalkan bantuan Google Map yang bisa dengan mudah kita akses, ditambah tanya-tanya sedikit sama akang-akang atau teteh-teteh Bandung yang kasep and geulis-geulis, xixixixix. Dijamin, semua kesulitan tersebut pasti akan jauh berkurang. Terlebih, menjamurnya peran sosial media dalam menyampaikan informasi juga tidak kalah cepat dan hebatnya.

Well, sekarang sudah semakin clear kan. Mudah-mudahan info singkat mengenai “Situ Cisanti Pangalengan” ini bermanfaat untuk kita semua.

7 Mata Air Situ Cisanti

Mitos 7 Mata Air Situ Cisanti – Tak lengkap rasanya kalau datang ke Situ Cisanti tapi kita tidak mengunjungi salah satu peninggalan sejarahnya yang ada disini. Ya, selain menikmati keindahan panorama danau Cisanti yang tenang yang di kelilingi jajaran pohon-pohon yang tinggi menjulang, pengunjung yang datang ke Situ Jayanti juga sekaligus dapat melihat situs-situs sejarah peninggalan masa lampau. Seperti situs petilasan Dipati Ukur, dan juga mata air yang merupakan sumber dari air di Situ Cisantinya itu sendiri.

Mata air situ cisanti - Hulu Citarum
Mata air situ cisanti – Hulu Citarum

Untuk informasi mengenai Petilasan Dipati Ukur sudah kita tulis dalam artikel sebelumnya, jadi Sobat bisa membacanya disini: Petilasan Dipati Ukur.

Sekarang yang akan kita korek informasinya adalah mengenai 7 mata air Situ Cisanti, yang mana konon mitosnya tiap-tiap dari mata air tersebut mempunyai kekuatannya masing-masing. Hemmm, apa sama seperti air dewa yang ada di film Dragon Ball, yang kalo diminum kita akan menjadi sakti mandraguna seperti dalam filmnya Dragoon Ball – Son Goku  … xixixixi, becanda bos.

Nah berikut ini informasi dari nama-nama mata air tersebut.

Nama-Nama 7 Mata Air Situ Cisanti

Dari beberapa sumber informasi, seperti buku, artikel, dan juga video mengenai Situ Cisanti, dapat diperoleh keterangan bahwa jumlah mata air yang mengaliri Situ Cisanti ini jumlahnya ada 7 buah. Kenapa dikatakan mengaliri, karena memang sumber air yang ada di danau Cisanti ini awalnya memang berasal dari ke-7 mata air tersebut+ air yang datang dari langit, alias air hujan.

Tapi sayang hanya 1 lokasi mata air saja yang dapat kita lihat yaitu mata air pangsiraman, karena sebagian lagi katanya berada jauh kedalam hutan, atau diluar area dari Situ Cisanti ini.

Namun meski begitu, lagi-lagi sayangnya tidak sembarang orang yang dapat masuk ke lokasi tersebut. Masalahnya adalah, karena tempat tersebut dianggap sakral oleh warga setempat, dan mungkin juga supaya terhindar dari tangan-tangan usil yang suka mencorat-coret, merusak, membuat kotor, dan yang terpenting adalah supaya tetap terjaga kelestariannya.

Mata air situ cisanti - pangsiraman
Mata air situ cisanti – pangsiraman

Tapi ya sudahlah, kita hormati saja adat dan kebiasaan setempat, yang penting kita masih dapat menikmati keindahan Situ Cisanti ini, benarkan. Nah sekarang, apa sajakah nama-nama dari 7 mata mata air Situ Cisanti tersebut, ini dia infonya untuk Anda.

  1. Mata Air Pangsiraman
  2. Mata Air Cikolebere
  3. Mata Air Cikawedukan
  4. Mata Air Cikahuripan
  5. Mata Air Cisadane
  6. Mata Air Cihaniwung
  7. Mata Air Cisanti

Seperti yang tadi sudah kita singgung diawal. Dari ke-7 mata air tersebut hanya mata air pangsiramanlah yang dapat kita kunjungi. Kalau dulu mata air ini terbuka dan tidak dipagari, sehingga siapa saja bisa melihat, merasakan, meminum, mencuci muka dengan menggunakan air yang keluar dari mata air disini.

Tapi saat admin mengunjungi Situ Cisanti di Desember 2015 lalu, lokasi mata air pangsiraman ini sudah dibangun dan depannya ada gapura dengan pintu masuk yang selalu tertutup. Jadi untuk bisa masuk, Anda harus ditemani oleh seorang penjaga atau kuncen dari tempat tersebut.

Lalu dari mitos yang berkembang, setiap dari mata air tersebut mempunyai manfaat mistisnya masing-masing, sehingga dihari atau di tanggal-tanggal tertentu suka ada pengunjung yang datang kesini guna melakukan aktifitas guna mengharapkan sesuatu hal.

Entahlah, aktifitas seperti apa yang mereka lakukan dan harapan apa yang mereka inginkan, hanya mereka dan Tuhan lah yang tahu. Tapi mudah-mudahan, Anda tidak percaya supaya terhindar dari Syirik dan Musyrik. Admin juga tidak akan menuliskan, manfaat seperti apa dari masing-masing sumber mata air tersebut. Karena yang jelas, Air Itu Sumber Kehidupan.

Dan kalau Anda beruntung berkesempatan untuk bisa masuk kedalamnya, lalu Anda bisa merasakan, mencuci muka, mencicipi air dari mata air tersebut maka mudah-mudahan tidak sambil memohon sesuatu. Tapi lebih ke rasa penasaran untuk merasakan bagaimana segarnya air yang benar-benar keluar dari sebuah mata air yang berasal dari perut bumi.

Well, mudah-mudahan info singkat mengenai nama 7 mata air Situ Cisanti ini bermanfaat untuk sobat semua. kalau ada info lainnya tentang Situ Cisanti pasti akan kita posting dalam artikel selanjutnya. Dan kalau sobat semua berkunjung ke Situ Cisanti, tolong jaga kebersihan dan kelestariannya yaah. Salam.

Rute Situ Cisanti – Tips Rute Menuju Situ Cisanti

Rute Situ Cisanti – Bagi sobat semua yang hendak datang melihat situ cisanti yang merupakan hulu dari sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat, yaitu sungai Citarum. Maka ada dua rute yang biasanya dijadikan pilihan untuk dapat sampai ke tempat ini. Yang pertama melalui jalur Ciparay melalui Lembur Awi, dan yang kedua melalui jalur Pangalengan, yang ke arah pemandian air panas Ci Bolang.

Rute Situ Cisanti
Rute Situ Cisanti

Kedua rute menuju Situ Cisanti ini mempunyai plus minus nya masing-masing. Kalau lewat jalur ciparay maka akan jauh lebih cepat karena lebih dekat. Sedangkan lewat jalur pangalengan sedikit lebih jauh karena sedikit memutar, namun Anda akan disuguhi pemandangan perkebunan teh yang sangat indah. Jadi tak akan terasa jauhnya deh, dijamin. Admin aja yang orang Bandung, betah berlama-lama di Pangalengan, hehehe.

” Keindahan panorama Bandung Selatan selalu dapat menarik wisatawan dari luar kota Bandung untuk berkunjung ke sini. Tujuan mereka kemana lagi kalau bukan ke tempat-tempat wisata yang ada di sekitaran daerah Ciwidey maupun Pangalengan. Hawa yang sejuk, serta pemandangan hijau, adalah daya tarik utama sehingga kawasan ini selalu dapat menarik banyak wisatawan setiap tahunnya “

Review Rute Situ Cisanti

Seperti yang tadi sudah disinggung diawal, sobat bisa berkunjung ke Situ Cisanti melalui rute Ciparay ataupun Pangalengan. Nah sekarang kita review seperti apa treknya, berdasarkan pengalaman admin sendiri dan juga pengalaman dari sobat lainnya yang sudah pernah datang ke Situ Cisanti.

Rute Situ Cisanti Via CiparayRute Situ Cisanti Via Pangalengan

Waktu tempuh perkiraan adalah 2-3 jam, tergantung kecepatan dan kondisi jalan. Rute yang biasa dilalui adalah Bandung – Ciparay – Lembur Awi – Jl. Raya Pacet – Jl. Raya Cibereum – Tarumajaya (Situ Cisanti).

Waktu tempuh perkiraan adalah 3-4 jam, tergantung kecepatan dan kondisi jalan.

Rute Menuju Situ Cisanti Via Ciparay

Untuk sobat yang mau melalui jalur Ciparay, maka sobat bisa meluncur dari Bandung melalui Jl. Mohammad Toha → Dayeuh Kolot. Lalu setelah melewati jembatan Citarum akan ada jalan bercabang yang dipisahkan oleh sebuah POM Bensin. Jalur ke kanan adalah jalan menuju Banjaran, sedangkan yang ke kiri adalah jalur menuju Ciparay, jadi ambillah jalur kiri dan terus lurus sampai menemukan bunderan dengan Tugu Perjuangan. Lalu Ambil kiri dan masuk Jl. Laswi yang akan membawa Anda ke alun-alun Ciparay.

Kalau sobat datang dari Bandung dari arah Buah Batu, maka sobat bisa meluncur melalui Jl. Buah Batu → Bojong Soang, lalu Anda akan masuk Jl. Siliwangi hingga akhirnya masuk Jl. Laswi hingga ke alun-alun Ciparay.

Pas di alun-alun Ciparay, tepatnya pas Masjid agung Ciparay beloklah ke arah kanan, maka Anda sudah masuk ke Lembur Awi yang nantinya akan melewati daerah Pacet, kemudian Cibereum, dan akhirnya akan masuk hutan pinus yang menandakan Anda sudah akan sampai ke pintu gerbang Situ Cisanti. Ciparay → Lembur Awi → Jl. Raya Pacet → Jl. Raya Cibereum → Situ Cisanti.

View di jalur ini akan di dominasi oleh area pesawahan dan perkebunan. Saat kita kesini Desember 2015 kemaren, kita melewati jalan beton dipinggir bukit yang semuanya tertutup oleh lumpur yang terbawa air hujan, sehingga sangat licin dan mesti extra hati-hati. Sepertinya lumpur tanah merah ini datang dari atas karena area bukitnya sudah berubah menjadi perkebunan. Alhasil tanah dengan mudah tergerus dan terbawa air hingga msuk ke jalan. Tapi secara keseluruhan jalannya cukup bagus, jadi mobil atau motor bisa melewatinya tanpa ada masalah. (Kecuali jika ada hal-hal diluar dugaan seperti bencana alam)

Oh iya, aplikasi google Map yang tertanam di semua perangkat Android sobat-sobat semua bisa dijadikan panduan karena akan sangat membantu sebagai penunjuk arah. Soalnya keakuratannya sudah sangat baik, terlebih ada view mode ‘Earth’ nya sehingga akan tampak lebih realistis.

Rute Menuju Situ Cisanti Via Pangalengan

Bagi sobat yang mau menggunakan rute Situ Cisanti melalui jalur Pangalengan, maka sobat harus mengambil arah yang menuju Banjaran. Untuk rutenya sobat bisa melihat nya dibawah.

Kalau yang dari Bandung, bisa masuk dari jalan :

  • Mohammad Toha → Dayeuh Kolot → Banjaran
  • Buah batu → Bojong Soang → Dayeuh Kolot → Banjaran

Di Banjaran Anda akan melewati terminal dan juga pasar Banjaran. Kemudian akan menemukan jalan bercabang dan melihat petunjuk arah yang menunjukan arah Pangalengan adalah yang kekiri, maka ambilah arah yang ke kiri, yang berarti Anda sudah masuk Jl. raya Pangalengan.

Dari sini perjalanan Anda akan mulai menanjak dan berkelok-kelok melewati Cimaung menuju pangalengan. Mulai masuk Wilayah Pangalengan Anda akan menemukan bundaran pertigaan. Yang kekanan adalah ke Situ Cileunca, Perkebunan Teh Cupu, Talegong. Sedangkan yang ke kiri adalah ke arah Pemandian Air Panas Cibolang dan juga perkebunan teh PTPN VIII. Maka Ambilah yang kearah kiri ke arah Cibolang atau perkebunan PTPN VIII. Kalo Anda bingung mungkin bisa tanya-tanya sedikit kepada warga sekitar.

Jalur ini nantinya akan membawa Anda melewati tempat wisata pemandian air panas Cibolang, kemudian melewati perkebunan teh malabar, jangan lupa mampir juga ke Makam Bosscha, karena tokoh inilah perkebunan teh Pangalengan ini malabar ini bisa ada, kemudian atas jasanya akhirnya Teropong Bintang Bosscha di Lembang bisa berdiri.

Setelah melewati perkebunan teh Malabar maka Anda juga akan melewati  Perkebunan teh Santosa → Melewati Pabrik Pengolahan Teh Kertasari yang didepannya ada monumen Traktor dan mobil Stum jadul (bisa jadi tempat foto menarik) → Masuk kawasan hutan pinus yang berarti Anda sudah sampai, hati hati kelewat. Kalo dari jalur ini gerbang Situ Cisantinya ada disebelah kiri jalan.

Gimana, sudah ada sedikit gambaran’kan. Jadi setidaknya Anda bisa menimbang-nimbang jalur mana yang akan diambil. Mungkin berangkatnya via Ciparay lalu pulangnya bisa lewat Pangalengan sambil menikmati keindahan hamparan kebun teh. Akhir kata, semoga info singkat mengenai Rute Situ Cisanti ini bisa bermanfaat utuk sobat semua.

Peta Situ Cisanti

Map / Peta Situ Cisanti – Peta yang ditampilkan google map hanya berupa panduan atau petunjuk arah. Google map tidak dapat memperkirakan apakah jalan yang akan dilalui kondisinya bagus, mulus, rusak, atau mungkin tidak layak. Tapi setidaknya dengan melihat peta berikut ini maka Anda dapat memperkirakan kemana arah yang harus Anda tuju.

Peta Menuju Situ Cisanti
Peta Menuju Situ Cisanti

Waktu terakhir ke Situ Cisanti Admin berangkat lewat Ciparay lalu pulang lewat Pangalengan. Pulang pergi jalannya cukup bagus, kombinasi antara aspal dan beton. Cuman pas berangkatnya, ketika beberapa kilo meter lagi menuju Situ Cisanti ada bagian jalan yang tertutup lumpur tanah merah sehingga agak sedikit licin, tapi overall tetap sangat bisa untuk dilalui, cuman agak harus hati-hati aja sedikit.

Nah menurut pengamatan admin sendiri sih lumpur ini berasal dari bukit yang ada diatasnya, yang mana punggung bukit tersebut areanya telah berubah menjadi perkebunan sayur, sehingga terjadi erosi pada saat hujan besar turun. Air mengalir dengan deras dari atas dengan membawa material tanah karena tidak ada lagi penahan, sehingga akhirnya masuk kebadan jalan.

Peta Menuju Situ Cisanti Via Ciparay dan Pangalengan

Waktu tempuh perkiraan adalah 2-3 jam, tergantung kecepatan dan kondisi jalan. Rute yang biasa dilalui adalah Bandung – Ciparay – Lembur Awi – Jl. Raya Pacet – Jl. Raya Cibereum – Tarumajaya (Situ Cisanti).

Selengkapnya bisa lihat disini: Rute Situ Cisanti Via Ciparay

Waktu tempuh perkiraan adalah 3-4 jam, tergantung kecepatan dan kondisi jalan. Untuk info rute yang lebih lengkap bisa di baca disini: Rute Situ Cisanti Via Pangalengan

Nah mudah mudahan info mengenai Peta menuju objek wisata Situ Cisanti ini bermanfaat untuk sahabat semua. Jangan lupa ketika main-main kesana selalu menjaga kebersihan yahh. Salam.

Situ Cisanti – Menikmati Keindahan Hulu Sungai Citarum

Situ Cisanti, adalah nama sebuah danau kecil yang terletak di kaki gunung Wayang, yang jaraknya kurang lebih 50-60 km dari pusat kota Bandung. Lokasi tepatnya berada di Kampung Pejaten, Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab. Bandung, Prov, Jawa Barat. Situ Cisanti diketahui merupakan hulu sekaligus sumber mata air dari sungai terpanjang dan terbesar yang ada di Jawa Barat, yaitu Sungai Citarum.

Bagian depan Situ Cisanti | Foto-foto Situ Cisanti
Bagian depan SituCisanti 
Anak tangga menuju Situ Cisanti | Foto-foto Stu Cisanti
Anak tangga menuju Situ-Cisanti | Foto-foto SituCisanti
Santai sejenak menimati keindahan situ Cisanti | Foto-foto Situ Cisanti
Santai sejenak menimati keindahan danau Situ-Cisanti

 

Keindahan Situ Cisanti yang masih asri | Foto-foto Situ Cisanti
Keindahan SituCisanti yang masih asri 
Keindahan Situ Cisanti Gung Wayang dari salah satu sudut situ | Foto-foto Situ Cisanti
Keindahan SituCisanti Gunung Wayang dari salah satu sudut situ

Saat ini, kawasan Situ Cisanti masuk kedalam area Perum Perhutani, sehingga pengelolaan’nya pun dilakukan oleh Perum Perhutani. Dan memang kalau dilihat ke sekeliling dari situ ini yang tampak adalah pohon-pohon rimbun yang tinggi menjulang.

Namun meski begitu, dengan berlatar belakang bukit dan gunung yang ada dibelakangnya malah bisa menambah keindahan view yang ada disini. Apalagi ketika bukit atau gunungnya sedikit diselimuti kabut, maka pemandangan yang ada di Situ Cisanti ini akan jauh lebih cantik.

Situ Cisanti Adalah Tempat Berkumpulnya 7 Mata Air

Pintu masuk mata air pangsiraman | Foto-foto Situ Cisanti
Pintu masuk mata air pangsiraman

Selain menyimpan keindahan alamnya yang masih alami, tahukah Anda kalau ternyata Cisanti ini merupakan tempat bersatunya air dari 7 sumber mata air yang berbeda, sebelum akhirnya airnya mengalir ke hilir. Nah berikut ini adalah nama-nama mata air yang mengalir ke Danau Situ Cisanti:

  1. Mata air Pangsiraman
  2. Mata air Cikahuripan
  3. Mata air Cisanti
  4. Mata air Cihaniwung,
  5. Mata air Cisadane
  6. Mata air Cikolebere
  7. Mata air Cikawedukan

Menurut rumor yang berkembang, konon tiap-tiap dari mata air mempunyai cerita dan mitos’nya masing-masing, sehingga pada-hari-hari tertentu sering didatangi pengunjung yang membawa keinginan dan harapannya masing-masing. Keinginan dan harapan apakah itu, Wallahu a’lam, hanya mereka’lah yang tahu. Yang jelas Admin mengingatkan bahwa segala kebaikan itu hanya milik Allah SWT, jadi memintalah kepadanya.

Mata air situ cisanti - pangsiraman
Mata air – pangsiraman

Jika suatu hari Anda berkunjung ke tempat wisata Situ Cisanti ini, mudah-mudahan Anda beruntung sehingga berkesempatan mengunjungi salah satu dari 7 mata air yang tadi telah disebutkan, yaitu namanya “Mata Air Cikahuripan”. Kenapa ada istilah beruntung, karena sekarang mata airnya dipagari dan dikunci, jadi tidak bisa sembarang orang untuk bisa masuk.

Jadi kalau lagi beruntung maka pagarnya tidak dikunci atau terbuka, maka Anda bisa masuk dan melihat mata airnya. Disini ada yang namanya kuncen alias juru kunci dari mata air ini. Soalnya, menurut info yang beredar, tempat ini juga sering dijadikan tempat melakukan ritual tertentu, ritual apakah itu ? Anda bisa menanyakannya langsung kepada Kuncen atau Juru Kunci nya.

Waktu terakhir admin berkunjung ke danau Cisanti, yaitu pada desember 2015 yang lalu, sayang kita sedang tidak beruntung karena situs mata air ini terkunci. Jadi kita hanya bisa men’shot nya dari luar pagar saja. Tapi mudah-mudahan, next kita bisa berkesempatan untuk meng’abadikan mata air tersebut untuk Anda.

Lokasi Situ Cisanti

Jalur Situ Cisanti via Pangalengan
Jalur ke danau Cisanti via Pangalengan

Seperti yang tadi sudah kita sebutkan diawal, Cisanti ini adalah sebuah situ yang letaknya berada di kaki gunung Wayang. Nah karena berada dikaki sebuah gunung maka situ cisanti berada di tempat yang sangat tinggi, yaitu kira-kira berada di 1500 m diatas permukaan laut, dan jaraknya kurang lebih 50-60 km dari pusat kota Bandung. Lokasi tepatnya berada di Kampung Pejaten, Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari, Kab. Bandung, Prov, Jawa Barat.

Situ Cisanti adalah danau kecil yang luas’nya kurang lebih hanya 9 hektar saja, dengan kedalaman waduk sekitar 3-4 meter, dan kedalaman rata-rata airnya adalah 2.5 m. Suhu udara di cisanti cukup dingin dan sejuk, terlebih situ ini dikelilingi oleh hutan pinus dan beberapa spesies pohon yang konon telah berusia ratusan tahun.

Desa Tarumajaya tempat dimana hulu citarum ini berada merupakan desa pegunungan yang dikelilingi oleh kawasan hutan dan juga perkebunan teh. Namun meski begitu, tak sedikit pula area pertanian atau perkebunan sayur yang berjajar disepanjang rute menuju wisata hulu cisatum ini. Dan terbukti, diketahui bahwa Desa Tarumajaya merupakan salah satu desa penghasil kentang dan wortel terbesar di Bandung.

Rute Menuju Situ Cisanti

Untuk Menuju danau Cisanti ada 2 rute yang bisa sahabat lalui jika kita anggap start pointnya dari Bandung, yaitu yang pertama melalui jalur Ciparay dan bisa juga melalui jalur pangalengan. Nah untuk informasi mengenai kedua jalur tersebut sudah kita bahas terpisah.

Sobat bisa membacanya disini: Rute Menuju Situ Cisanti

Gimana, tertarik ingin melihat situ yang merupakan hulu dari sungai terbesar yang ada di Jawa Barat ini. Jadi kalau-jalan-jalan ke Bandung Selatan, jangan lupa mampir ke Situ Cisanti.